Content Dev #3 Process Organization_Naphuan Bunga T_TI-46-07_PPB
Rangkuman Materi PPB Week 3
Tradisi dalam Manajemen Proses Bisnis
Manajemen proses bisnis berkembang dari tiga pendekatan utama:
1. IE/QC Tradition: Fokus pada peningkatan proses operasional, efisiensi, dan kualitas.
2. Management & Business Process Redesign Tradition: Berfokus pada penyelarasan atau perubahan proses bisnis untuk meningkatkan kinerja organisasi.
3. IT Tradition: Berpusat pada otomatisasi proses melalui teknologi informasi.
Ketiganya memberikan fondasi bagi pendekatan modern terhadap pemodelan dan pengelolaan proses.
Sistem dan Nilai dalam Pengorganisasian Proses
- Pendekatan sistem (Systems Perspective): Menekankan bahwa seluruh elemen organisasi saling terhubung dan perlu dimodelkan dalam bentuk aliran dan umpan balik (feedback loops).
- Pendekatan rantai nilai (Value Chain): Menyediakan pandangan menyeluruh terhadap proses bisnis, tetapi masih memerlukan metode untuk mengukur kontribusi setiap entitas organisasi.
- Rummler’s Performance Improvement Method: Memfokuskan pada keterkaitan antara struktur organisasi, aktivitas, dan karyawan agar berfungsi secara efektif.
Enterprise Process Model dan Organisasi
Organisasi perlu mengidentifikasi seluruh proses utama yang dimiliki, kemudian memprioritaskan proses yang memberikan potensi peningkatan terbesar. Model ini disebut Enterprise Process Model (EPM), yaitu representasi tingkat tinggi dari keseluruhan proses dalam organisasi.
Organisasi dalam Transformasi Teknologi
Diperlukan Organization Diagram yang menjelaskan:
- Hubungan organisasi dengan lingkungan eksternal
- Relasi antar unit/departemen internal
Kunci utamanya yaitu bagaimana organisasi terintegrasi dan diorganisasi untuk mencapai tujuannya secara efisien.
Value Creation Hierarchy
Setiap organisasi ada untuk menciptakan nilai bagi pasar (produk atau jasa). Untuk mewujudkannya, dibutuhkan sistem internal berupa proses dan sumber daya yang mendukung. Value Creation Hierarchy digunakan untuk memetakan kerangka nilai dari tingkat strategis hingga operasional. Dimulai dari tujuan strategis organisasi (seperti visi dan misi), hierarki ini diturunkan ke dalam level taktis berupa kebijakan dan program, lalu dijabarkan ke proses operasional yang dilakukan sehari-hari. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap aktivitas dalam organisasi mendukung pencapaian nilai yang dijanjikan kepada pelanggan atau stakeholder. Dengan struktur ini, proses bisnis dapat dirancang dan dievaluasi agar selaras dengan sasaran nilai organisasi.
Arsitektur dan Klasifikasi Proses
Arsitektur dan klasifikasi proses dalam konteks organisasi merujuk pada pendekatan sistematis untuk memahami dan mengelompokkan berbagai elemen proses bisnis berdasarkan level dan peranannya dalam organisasi. Pendekatan ini dikenal sebagai layered architecture, yaitu sebuah struktur berlapis yang menunjukkan bagaimana elemen-elemen proses saling berhubungan secara vertikal maupun horizontal dalam organisasi. Setiap lapisan mewakili peran yang berbeda, mulai dari proses strategis di tingkat atas hingga proses operasional di lapisan bawah. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mempermudah analisis, desain ulang, dan pengelolaan proses secara keseluruhan. Dalam melakukan klasifikasi, setiap kategori harus memenuhi tiga kriteria utama: jelas didefinisikan, saling eksklusif (tidak tumpang tindih), dan secara kolektif mencakup keseluruhan proses dalam organisasi. Dengan demikian, arsitektur ini menjadi dasar konseptual dalam membangun sistem proses yang konsisten, terintegrasi, dan mudah dikendalikan.
Tipe Klasifikasi Proses
Terdapat dua klasifikasi utama dalam pelaksanaan proses:
1. Process Integration: Tingkat berbagi data antar proses dalam organisasi.
2. Process Standardization: Tingkat keseragaman dalam pelaksanaan proses di seluruh unit organisasi.
Siklus Hidup Proses (Process Life Cycle)
Merupakan skema klasifikasi lain, menggambarkan tahapan proses dalam menghasilkan suatu objek bisnis, baik berupa produk, kontrol, atau informasi.
Business Process Management (BPM)
BPM adalah disiplin yang melibatkan kombinasi dari:
- Pemodelan
- Otomatisasi
- Eksekusi
- Pengendalian
- Pengukuran
- Optimalisasi alur aktivitas bisnis
Tujuan utamanya adalah mendukung pencapaian tujuan organisasi melalui reengineering proses yang berkelanjutan.
Elemen Inti dalam BPM
Beberapa enabler penting dalam BPM:
- Process Design: Spesifikasi tugas, pelaksana, waktu, lokasi, syarat, dan informasi terkait.
- Process Metrics: Indikator kinerja (cost, speed, quality) berbasis kebutuhan pelanggan dan tujuan organisasi.
- Process Performers: Pelaku proses yang memahami proses secara menyeluruh dan mampu bekerja dalam tim.
- Process Infrastructure: Dukungan sistem IT dan SDM.
- Process Owner: Pihak yang bertanggung jawab mengelola proses dari awal hingga akhir.
Budaya Proses (Process Culture)
Perubahan budaya organisasi sangat diperlukan dalam implementasi BPM. Budaya mencakup nilai dan keyakinan kolektif yang memengaruhi sikap dan perilaku terhadap proses. Organisasi perlu mengembangkan kemampuan budaya untuk mendukung manajemen proses.
BPM Center of Excellence (BPM CoE)
BPM CoE merupakan entitas penting yang mendukung keberhasilan implementasi BPM.
Fungsi BPM CoE:
1. Memberikan kepemimpinan dan panduan praktik terbaik
2. Mendukung pengambilan keputusan strategis
3. Meningkatkan kelincahan bisnis
4. Mengorkestrasi lintas fungsi dan teknologi
BPM CoE dapat berbentuk tim khusus, fasilitas bersama, atau institusi internal.
Komentar
Posting Komentar